Wednesday, July 23, 2008

मरितल Rape

Aku ingat, dulu waktu kuliah Filsafat Hukum, masalah Marital Rape pernah menjadi salah satu topik bahasan. Sejujurnya saat itu aku tidak sepenuhnya memahami topik itu dan karenanya tidak berani berpendapat tegas. Tapi lalu setiap kali menemukan topik Marital Rape di koran, majalah atau di mana saja aku membacanya dan mencoba mengerti bagaimana seharusnya relasi seksual di dalam perkawinan dan apa batasannya sehingga di luar itu disebut perkosaan.

Lalu, kembali Oprah Show yang menggugahku untuk menulis ini. Dua orang perempuan --yang sekedar mewakili 1,5 juta perempuan pertahun yang mengalami Marital Rape--, Tascha dan Dolores. Tascha adalah mantan putri kecantikan salah satu negara bagian di AS, sedangkan Dolores adalah wakil kepala polisi! Tascha bahkan sudah mulai mengalami perkosaan itu sejak sebelum menikah (yang tadinya dia anggap sekedar gairah yang menggebu dari pacarnya) lalu semakin menjadi setelah berstatus istri. KDRT memang selalu diawali dengan merendahkan martabat secara mental melalui pelecehan verbal, lalu pemukulan dan ujungnya perkosaan. Pada titik dimana kekejaman itu meningkat, bahkan dilakukan dengan menggunakan botol! Bayangkan, kejahatan yang bisa dilakukan manusia, meski dia berstatus suami!

Tascha mengatakan mungkin jauh lebih ringan bila ia mengalami perkosaan yang dilakukan orang tak dikenal di jalanan. Mungkin hanya kesakitan fisik dan rasa terluka yang dalam karena kekuasaan atas tubuhnya diinvasi pihak lain. Tidak ada kesakitan emosional karena kekecewaan yang dalam, pengkhianatan akan cinta yang membuat mereka menikah, kesadaran akan kebodohannya dalam memilih pria untuk dicintai, dipercayai. Kupikir semua itu kesakitan yang terlalu berat untuk ditanggung dalam satu masa hidup seseorang.

Beberapa hal yang membuat perkosaan itu bisa diterima bertahun-tahun sebelum penjahatnya dihukum: Pertama, istri seringkali bingung sampai batas mana ‘pelayanan’ yang harus diberikan sebagai seorang istri. Apakah harus juga ketika ia sakit kepala, apakah harus juga ketika ia kelelahan sehabis bekerja, apakah harus juga ketika sehabis bertengkar luka hatinya belum pulih? Tidak salah lalu ada yang mengatakan jeritan perempuan ketika ia menikah: Apakah dosaku sehingga harus menikah?  Hehe…

Kedua, masyarakat seringkali menimpakan kesalahan kepada perempuan ketika perkawinannya gagal. Perempuan dianggap bertanggung jawab dalam menjaga keutuhan keluarga, sehingga meski kesalahan bukan terletak padanya, pandangan menuduh, omongan tetangga tetap ditujukan pada perempuan. Hal ini membuat perempuan melakukan penyangkalan bahwa dia korban, sampai sudah sangat terlambat.

Ketiga, bahkan di Amerika sana, Dolores tidak yakin orang akan percaya bahwa dia diperkosa suaminya. Masyarakat membuat sekat tak tertembus untuk sesuatu yang ada di balik pintu tertutup sebuah keluarga. Apa pun yang terjadi di sana adalah wilayah private. Meski ada tangis, jerit, darah. Hanya bila ada mayat maka masyarakat boleh mendobrak sekat itu.

Saran yang diberikan para pelayan masyarakat untuk para korban KDRT, dokumentasikan. Pergi ke rumah sakit, dapatkan visum, buat foto dan cari saksi yang dapat dipercaya. Please, jangan malu ketika menjadi korban, cari perlindungan. Aku belum pernah mendengar ada hukuman akumulatif di Indonesia, seperti di AS. Perkosaan dengan kekerasan sekian tahun, perkosaan dengan senjata sekitan tahun, perkosaan dengan alat sekian tahun. Tapi, buatlah pembalasan setimpal untuk kejahatan yang merendahkan harkat dan mertabatmu. Btw, para binatang di rimba belantara sana juga mengenal perkosaan, gak ya?

Perkosaan adalah perkosaan. Bila seorang perempuan dipaksa melakukan hubungan seks, maka itu perkosaan. Meski dilakukan pacar, pasangan, bahkan suami. Itu perkosaan. Titik.

Wednesday, April 16, 2008

Entah Bintang, Entah Asa

Inginnya melihat bintang di langit,
tapi bila tak sangat kelam ia tak tampak terang
Hanya bila terasa kelam cahayanya bak asa
Tapi bila ini asa kerlipnya terlalu samar
Apakah asa yang samar dapat dipercaya?
Tak adakah kejora di langit malam kini?
Agar kedip mata tak membuatnya mengabur
Agar gelap malam tak semata kelam.

Sunday, March 30, 2008

Tentang Film Ayat-Ayat Cinta

Aku bertanya-tanya cukup lama tentang film ini.
Bertanya-tanya karena begitu banyak orang mengatakannya bagus.
Bertanya-tanya tentang pendapat beberapa tokoh yang menyebutnya mencerminkan wajah Islam.
Bertanya-tanya tentang teman filsafatku yang sampai mengulang-ulang dialognya dan menyuruhku menonton.
Bertanya-tanya benarkah film Indonesia tiba-tiba bisa bagus sekaligus sangat laku?
Aku sampai dikritik untuk tidak terlalu skeptis dan melihatnya dulu sebelum menilai.

Lalu aku menontonlah.
Aku kembali bertanya-tanya. Dengan gusar kali ini.
Apa bedanya dengan sinetron Indonesia yang sesak dengan dialog dan logika cerita yang ajaib?
Apa kelebihan dahsyat Fahri sehingga dicintai secara ‘gila’ oleh empat perempuan?
Tak tergambar cukup di sana untukku. Dia menjelaskan ajaran Al-Quran secara tekstual ketika diwawancarai, apakah mencerminkan kapasitas seorang mahasiswa S-2 Al-Azhar? (
Kalau aku yang jadi teman AS-nya, aku akan bertanya, bagaimana bila suami yang mengingkari komitmen pernikahan?)
Semua kelebihan Fahri diberitakan tokoh lain dalam dialog, come on, ini film, media paling lengkap setahuku untuk bercerita. Fahri bahkan memerlukan bantuan Maria untuk tahu datanya benar-benar hilang di komputer. (
Kasihan benar penggambaran untuk para mahasiswa dari Indonesia ini, ada empat orang di flat itu dan tidak ada yang mengerti apa artinya kena virus komputer. Sampai-sampai cowok yang maunya digambarkan culun dengan perempuan, harus mengajak seorang perempuan ke flatnya. Aduh!).

Aku bertanya-tanya bagaimana cara Nurul menulis bahasa Arab Habibii Qalbii dari kiri ke kanan? Aku bertanya-tanya apakah sikap seorang muslim yang baik, memberi harapan pada perempuan lalu kemudian menikah dengan yang lain? (Tidak mungkin kan ada laki-laki senaif itu, kalau bukan tidak punya hati? Buktinya bisa meminta perempuan datang ke flatnya memperbaiki data?)
Apakah seorang yang punya relasi inteligen yang bisa menelusuri ortu Noura, tidak berdaya apa-apa menghadapi tuduhan palsu?
Apakah Islam membenarkan perempuan dinikahi dalam kondisi tidak sadar?
Apakah seorang korban seperti Noura yang dijadikan budak seks harus mendapatkan pemaafan dari kedua orang tua kandungnya?
Aku bertanya-tanya lalu, kebenaran pendapat tokoh Islam yang menonton (
sebagai penggambaran wajah Islam?) yang mungkin dititipi untuk memberikan pesan promosi.
Seberapa bertanggung jawabkah itu?

Tapi untuk adilnya, aku masih berharap penonton remaja masih bisa dicerahkan dengan misi film ini (semoga aku ga over-estimated sih) bahwa pacaran itu tidak pernah Islami kecuali selalu mengajak orang lain ketika kalian bertemu. Bahwa berbagi hati itu sakit, tidak perlu mencoba mengalaminya dulu seperti Aisha dan Maria baru mengerti bahwa itu sakit. Kesakitan karena berbagi hati adalah innate idea. Bahwa tak ada laki-laki biasa yang bukan Rasul, sanggup memenuhi syarat poligami.

Ternyata hanya film tentang empat perempuan pemuja lelaki tanpa pernah menghargai secara pantas diri mereka sendiri. Para perempuan yang seolah hanya punya pilihan menikah dalam hidupnya meski itu harus dipoligami.
Hm, agak maklum juga karena pengarangnya laki-laki, jadi rada narcis, gitu deh…
Kekinya aku ketika bertanya pada temanku itu, apanya yang bagus?
Dia tertawa; aku bilang begitu, biar kamu nonton dan berbagi kecewa denganku.
Menjadi teman kadang memang memberimu previllege untuk ngerjain!


Thursday, February 28, 2008

Gong Xi Fa Cai

Aku senang ketika ada tahun baru, meski secara primordial aku tidak berhak merayakannya. Sekedar merayakan perbedaan, merayakan keriangan sesama. Setidaknya tahun baru memberi alasan untuk refleksi, bukan? Bukankah perlu refleksi untuk bisa hijrah? Refleksi memang bagian dari pekerjaanku, meski kalau sedang membandingkan hasil refleksi itu pada realitas pencapaianku, hm, bikin masygul!

Salah satu refleksi terbaruku adalah game The Sims. Aku mengenal game komputer ini sejak lebaran tahun lalu dan selama beberapa waktu membiarkan diriku menjadi adiktif. Ketertarikan pertamaku hanya karena kemungkinan yang sangat banyak untuk mendesain rumah dan halamannya. Tentu saja makin lama aku makin mahir memainkannya. Dari yang bingung dengan mudahnya mereka menjadi bad mood karena kurang sosialisasi (hei, manusia yang sesungguhnya punya kapasitas self-entertaining untuk tidak kesepian, bahkan berdialog dengan diri sendiri merupakan cara untuk menyelesaikan masalah dengan lebih baik) atau tidak fun dalam pekerjaannya, aku mulai mengerti bagaimana mengelola mood dan membuat semua The Sim yang kumainkan mencapai karir terbaik sesuai minatnya, menemukan The Sim lain yang cocok, bahkan menikahkan mereka, merancang keluarga dengan beberapa anak. :-)

Tapi beberapa yang lain kuputuskan menjadi single yang menikmati karir dan hidup mereka.

Game ini secara cerdas menggugahku.
Pertama tentu saja karena mencerminkan secara tepat kehidupan manusia yang sesungguhnya. Pengandaian yang cermat dapat kuamati ketika sebuah kehidupan itu sepenuhnya ditentukan oleh penciptanya, maka semuanya akan berjalan baik, cepat dan berhasil. Kebebasan kehendak sebagaimana yang ada pada kehidupan manusia hanyalah untuk memungkinkan pertanggungjawaban, tapi manusia harus belajar bagaimana hidup sebagaimana yang diinginkan Sang Pencipta.

Kedua, ketika melihat bagaimana seharusnya mood dikelola. Setiap kali memiliki mood yang baik, mereka siap mengerjakan hal yang produktif. Mood yang buruk boleh dihibur dengan having fun sebentar untuk kemudian kembali belajar, bekerja, produktif. Seringkali proses menghibur diri itu adalah juga hobi kreatif yang ujung-ujungnya produktif. Tapi dalam kehidupan manusia sesungguhnya, kita justru sering menikmati mood yang baik dengan bersenang-senang. Untuk setiap kali keinginan produktif muncul, kita mengajukan banyak syarat; misalnya, sebelum mulai harusnya semua rapi dan bersih dulu, lalu hari itu berakhir dengan bersih-bersih tanpa melakukan yang sebenarnya ingin dilakukan. (Gue banget tuh!) Atau, untuk mengerjakan ini perlu satu hari yang free dari hal-hal lain; ternyata ketika dikerjakan, tak lebih dari 2 jam!

The Sims kupikir juga mengajarkan dengan baik kepada orang-orang yang memutuskan untuk memiliki keluarga. Menambah anggota keluarga, meski hanya seekor hewan piaraan, berarti harus benar-benar memberi komitmen waktu. Memiliki keluarga berarti menjadi egois dengan cara yang berbeda: menjadikan kepentingan mereka sebagai salah satu cara untuk membuatmu merasa bahagia. Dan syarat vitalnya, semua itu harus saling; hanya kalau saling memberi kita menjadi bonding dalam keluarga. Sering aku membuat seorang suami atau istri making family friend sementara pasangannya bekerja karena butuh satu teman lagi untuk promosi! Ayuh, punyailah multi-tasking yang membuat pasanganmu menjadi lebih hebat. Dan, maafkanlah bila mereka lupa berterima kasih. :-)

Lalu, perlunya memiliki banyak teman baik untuk mencapai karir yang lebih baik. Hal ini sudah lama kutahu, tapi hei, kalau menemukan orang yang karakternya sulit, aku biasanya gampang menyerah. Untuk The Sims, aku memaksa mereka bersabar ketika menemukan orang-orang yang suka menyombongkan diri, orang-orang yang suka mengkritik dan menghina. Aku membuat mereka tetap bersikap baik pada orang yang paling tidak menyenangkan sekali pun. Dan, simsalabim, karirnya menanjak! Hah, dari semuanya ini hal yang paling sulit dilakukan. Tapi bukan hal yang tidak mungkin, bukan?

Tapi, bukan untuk berapologi dengan kemasygulanku menyaksikan hidupku sendiri, hidup yang sebenarnya tentu saja lebih kompleks dan jelas tidak hanya diukur dalam capaian material. Seringkali kita mungkin malah lebih memilih prioritas capaian-capaian yang tak terukur; spiritualitas yang inklusif, pemahaman, penerimaan kepada kemanusiaan, kebahagiaan dalam memberi, dan mungkin banyak lagi lainnya.
Hm, aku hanya tertarik memiliki material things sejauh dapat memfasilitasi capaian-capaianku yang lain, yang prioritasnya bisa jadi akan terus berubah selama aku masih hidup. Itu artinya, capaian material tetap perlu, toh? :-)

So, first step: hanya bermain The Sims ketika merasa ga fun, dan mulai mengurus hidupku sebaik aku mengurus hidup Kimi Raikkonen, Hillary Clinton, Barack Obama, Kate Winslet, Sidney Wise, Fajar Sinclair, dll. Hehe…


(Ditulisnya sih pas Imlek, 7 Feb 2008)

Tuesday, January 01, 2008

The First Shop of Coffee Prince

Film ini sebenarnya khas entertaining film; ringan, menghibur, romantis. Tema yang diolah film-film romantis kan juga itu-itu saja, Cinderella story atau kalau tidak ya, pertentangan antara ketulusan cinta dengan kemilau harta. Tapi ada yang berbeda di sini, yang membuatku percaya Korea benar-benar telah beranjak pada titik kesadaran baru sebagai bangsa yang lebih maju.

Ceritanya begini:
Seorang gadis tomboy menjalani beberapa pekerjaan sekaligus untuk bisa menghidupi ibu dan adik perempuannya sejak sang ayah meninggal. Pada satu kesempatan pekerjaan utamanya sebagai guru bela diri untuk anak-anak harus berakhir, dia kelimpungan, dan satu-satunya kesempatan adalah dengan menjadi pelayan pria di sebuah café. Cinta yang hadir pada bos yang meng-hire dia sebagai pelayan pria, sempat melahirkan konflik untuk mengakui identitasnya yang perempuan. Termasuk tentu saja rasa dibohongi dari pihak sang bos yang sempat mengira dirinya pencinta sejenis. Tapi sebenarnya apa sih yang tak terselesaikan bila benar ada cinta? (Hm, hm…:-))

Tapi poin pentingnya terletak ketika sang gadis menolak untuk segera menikah karena ingin mencapai kemapanan tertentu untuknya, ibu dan adiknya. Dia lalu bahkan diberi kesempatan untuk mempelajari segala hal menyangkut kopi dan bagaimana membuatnya menjadi minuman nikmat di Perancis selama dua tahun oleh big boss yang juga nenek sang pacar. Sang pacar berkeras, kalau benar cinta mengapa mereka tidak segera menikah saja.
"Mengapa kamu perlu melakukan itu? Aku mengerti bagaimana keluargamu, tapi ada aku. Kamu cukup bersandar saja padaku.".
Sang gadis menjawab," Oya? Kau bisa sampai kapan? Apa kau takkan mati? Dulu ayahku juga berkata begitu pada kami semua. Tapi dia tak bisa melakukannya setelah ia meninggal. Sepeninggalnya aku menyadari satu hal, aku tak bisa mengandalkan siapa pun dalam hidupku, kecuali diriku sendiri".

Kuperpendek:
Lalu ada scene dimana dua lelaki sedang membicarakan masalah yang hampir sama dengan kekasih mereka, yang satu dengan istrinya dan yang satu lagi adalah sang pacar itu. Mereka sedang menertawakan diri sendiri. Lelaki yang telah menikah lalu menyimpulkan: "Sekali kau memilikinya, kau berharap perempuan itu sepenuhnya melakukan hal-hal yang kau inginkan. Apa hanya karena dia adalah milikmu, maka terserah apa maumu?"

Lalu sang pacar memutuskan memiliki cinta yang dewasa:
"Aku tidak berharap karena mencintaiku, kau melepaskan impianmu. Aku ingin jadi tenaga untukmu, membuatmu belajar lebih banyak."
Lalu meski berat karena itu artinya harus berpisah, dia melanjutkan, "Karena aku tahu, aku tidak bisa bertanggung jawab atas hidupmu. Pergilah. Kejarlah impianmu. Aku ingin cintaku menjadi sayap bagimu untuk pergi ke tempat di mana langkahmu meletih". Duh!
"Biarpun sekarang harus berpisah sementara, tapi setelah menunggu nanti akan melihatmu pertama kali membuat kimchi, pertama kali menggendong anak, pertama kali menjadi orang tua, pertama kali mengadakan pernikahan untuk anak kita."

Bayangkan, Korea bisa punya film romantis ala Cinderella tapi dengan tawaran pemahaman seperti itu! Wow… Mereka punya visi cerdas yang berusaha ditawarkan pada penonton film serial TV, dan bukan berarti di sana tidak ada konsep rating, bukan? Di atas semua itu, bukankah film salah satu cara paling halus dalam membangunkan kesadaran? Yah, kesadaran siapa lagi kalau bukan para manusia modern yang mengerti bagaimana teknologi paling mutakhir bekerja, tapi pada saat yang sama dengan mengatasnamakan cinta menyeret perempuannya masuk gua seperti yang dulu dilakukan manusia purba. (ck ck ck…) Tentu saja juga kesadaran para perempuan yang masih saja berusaha mengamputasi kemampuan eksistensialnya untuk terus saja mencari tempat untuk bersandar. C’mon, kita tak bisa mengandalkan siapa pun kecuali diri sendiri….

Cinta itu membebaskan, memungkinkan, memberdayakan; karena kehadirannya saja sudah membuat hati merekah, semua yang terlihat menjadi indah. Dia adalah awal semua kehidupan, bahkan penciptaan. So, percayalah hanya pada cinta yang membuatmu menjadi seseorang yang lebih baik dari sebelum ia menghampirimu.

Thursday, December 27, 2007

Not Just Susan Still

Oprah Winfrey Show adalah acara TV yang hampir selalu kutonton bila sedang di rumah. Banyak hal menarik di situ, meski aku kecewa bila membahas mengenai terorisme, pandangan yang muncul sangat standar warga AS kebanyakan. Begitu juga bila membahas mengenai Islam dan Timur Tengah. Yah, agaknya selevel Oprah pun belum tercerahkan dalam hal itu.

Tapi di antara begitu banyak bahasan yang menggugah, aku belum pernah sedemikian terganggu seperti ketika menonton episode yang menampilkan Susan Still. Aku baru sadar belakangan, waktu menonton episode itu, aku berkali-kali berdiri, berjalan, duduk dengan gelisah layaknya kalau menonton film horor yang sangat bagus. Episode itu memang mempertontonkan horor.

Bayangkan ketika seorang istri membuatkan sarapan untuk anaknya lalu menanyakan pada suaminya apakah dia mau sarapan yang sama. Lalu bukan jawaban menyenangkan yang diterima untuk kebaikan itu, tapi penyiksaan. Jambakan, tamparan, tendangan dan penghinaan. Yang lebih memuakkan, sang suami menyuruh putra sulungnya yang berumur 13 tahun untuk merekam adegan itu! Anak-anak itu juga diharuskan memanggil ibunya "white whore" setiap pagi sebelum berangkat sekolah.

Mencegangkan ketika Susan diwawancarai dia mengatakan pernah menonton Oprah yang menayangkan tentang KDRT tapi tidak menyadari bahwa dia juga sedang mengalami hal yang sama. Dari semua ‘pembacaan’ku tentang KDRT, hal yang terjadi sebetulnya adalah penghancuran harga diri secara sistemik. Tahap awal adalah menjauhkan korban dari orang yang mencintainya, entah keluarga atau teman. Mengatakan bahwa mereka tidak cinta, tidak peduli dan hanya memikirkan dirinya sendiri sementara satu-satunya orang yang mencintai korban adalah pelaku. Karena cinta itu pelaku lalu berhak marah, menghina, dan tahap lanjutnya menyiksa. Ada proses brain-washing di antara semua itu bahwa korban punya sikap tidak baik, bukan ibu yang baik, bukan istri yang baik, dan karena itu perlu dididik. Jadi sering kali korban tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi karena menganggap dirinya memang perlu dididik dengan perlakuan seperti itu.

Masalah Susan Still dibagi menjadi dua sesi, wawancara dengannya dan wawancara dengan dua dari tiga anaknya. Putra bungsunya yang pada saat wawancara baru berumur 12 tahun menceritakan pada awalnya dia mengira hal yang sama juga terjadi pada keluarga yang lain. Termasuk bahwa ibunya harus memanggil ayahnya "tuan". Dia berusaha menghapuskan semua pengalaman itu dan menganggap masa 8 tahun pertama kehidupannya tak pernah ada. Dia tersedu mengingat dia pernah tidak menginginkan ibunya pulang dari kantor karena dia tahu hal yang setiap hari terjadi itu harus dia saksikan lagi.

Lalu putra sulung yang merekam peristiwa itu mengungkapkan bahwa keseluruhan pengalaman itu membuatnya mudah marah sehingga sering membuat onar dengan orang-orang yang ditemuinya sebelum mendapatkan terapi. Dia mencintai ibunya tapi dia harus melakukan hal-hal yang membuatnya tetap survive. "Karena saya tahu ibu juga menginginkan saya menjaga keselamatan diri saya". Dia juga menganggap hukuman 36 tahun yang diterima ayahnya layak.

Jadi para korban KDRT jangan pernah berpikir menanggung semua itu demi anak-anak adalah keputusan yang benar. Tak ada seorang anak pun yang dapat tumbuh dengan baik dalam rumah yang tidak memiliki cinta, kasih sayang dan penghargaan satu sama lain. Bila ada korban KDRT di sekitar kita, hal pertama yang harus diberikan adalah simpati dan pengertian, baru kemudian pertolongan yang terencana. Karena proses brain-washing yang parah, sering kali mereka tidak menyadari masalahnya dan tentu saja tidak ingin dikatakan bodoh.

Mengapa judul tulisan ini Not Just Susan still? Karena di sekitar kita ada banyak perempuan mengalami hal yang sama. Tangis dan jeritan di balik pintu tertutup rumah tetangga. Masyarakat kita menganggap tabu ‘mengusik’ tangis itu, masyarakat kita hanya berbisik di belakang punggung ketika melihat mata bengkak dan muka yang lebam-lebam, masyarakat kita menganggap mulia istri yang meninggal di tangan suaminya sendiri.

Entahlah, beberapa perempuan di Aceh sana ketika dilibatkan untuk mendata kekerasan pada perempuan pengungsi tsunami, baru mengerti kalau ternyata tamparan yang jamak dilakukan suami adalah bentuk kekerasan yang tidak layak dianggap lumrah.
Dan jangan pernah berharap ada hukuman sampai 36 tahun, rata-rata hukuman untuk bahkan pelaku perkosaan di negeri ini hanya satu tahun.


Tuesday, November 20, 2007

Maaf, Asalnya dari Mana?

Kita orang Indonesia seringkali membanggakan keramahan khas timur ketika berinteraksi dengan orang lain. Kita gampang menyapa, ringan tersenyum kepada orang yang baru dikenal bahkan yang tidak kita kenal sekalipun. Saking ramahnya kadang kita lupa untuk menyadari batas-batas ‘keramahan’ yang pantas.

Satu bentuk 'keramahan' yang sering menggangguku setelah baru saja saling bertukar nama adalah pertanyaan: asalnya dari mana? Kadang alih-alih jengkel, aku geli berpikir, 'apa aku sedang mengikuti cerdas cermat tingkat nasional, ya?' Mungkin kalau kenalan di kereta masih mending, sekedar mencari bahan obrolan, meski tetap saja (???). Nah, kalau kenalan dengan seseorang yang jelas-jelas se-almamater, jadi langsung ilfil kan untuk terus ngobrol.

Seramah apapun sebuah pertanyaan diucapkan, bukankah orang yang diharapkan untuk menjawab akan berpikir tentang apa yang sebetulnya yang ingin diketahui dan disimpulkan oleh penanya? Bukannya tidak boleh bertanya tentang asal daerah seseorang, tapi bila itu pertanyaan pertama tidakkah itu berarti kita lebih tertarik menilainya dengan prasangka etnis yang kita punya, ketimbang mengenalnya sebagai pribadi yang sedang ada di hadapan kita? So, maaf kalau aku berhenti ramah dan menghindar karena pertanyaan itu. Toh, orang itu tidak tertarik mengenalku, dan bukankah meragukan relasi yang terbentuk dari prasangka?

Kalaupun tak ada keinginan untuk sebuah relasi, bukankah ada banyak pertanyaan lain yang lebih simpatik dan cerdas kemungkinan simpulannya? Atau malah tak perlu bertanya, mungkin membahas konteks pertemuan atau hal-hal aktual lainnya. Kan lebih menyenangkan mengenal seseorang sebagai pribadi yang antusias, realistik, atau pendiam (apapun impresi kepribadian lainnya), dibanding seseorang yang asalnya dari daerah A atau B atau C? Entahlah, aku cuma bisa membayangkan satu saja kemungkinan hal menarik yang terjadi dengan menanyakan asal seseorang; kebetulan kita satu hometown dan sama-sama berencana libur pulang kampung pada tanggal yang sama dengan kendaraan yang sama pula. Nah, kira-kira ada berapa persen kemungkinan itu, ya? :-)

Orang kita memang sangat ramah kadang, sampai-sampai sering mengajukan pertanyaan yang orang lain tak ingin menjawabnya karena heran mengapa pertanyaan itu perlu ditanyakan. Kita sering lupa, kapasitas seseorang lebih terlihat pada pertanyaan yang diajukannya, dibanding jawaban yang dapat diberikan ketika ia ditanya.