मरितल Rape
Aku ingat, dulu waktu kuliah Filsafat Hukum, masalah Marital Rape pernah menjadi salah satu topik bahasan. Sejujurnya saat itu aku tidak sepenuhnya memahami topik itu dan karenanya tidak berani berpendapat tegas. Tapi lalu setiap kali menemukan topik Marital Rape di koran, majalah atau di mana saja aku membacanya dan mencoba mengerti bagaimana seharusnya relasi seksual di dalam perkawinan dan apa batasannya sehingga di luar itu disebut perkosaan.
Lalu, kembali Oprah Show yang menggugahku untuk menulis ini. Dua orang perempuan --yang sekedar mewakili 1,5 juta perempuan pertahun yang mengalami Marital Rape--, Tascha dan Dolores. Tascha adalah mantan putri kecantikan salah satu negara bagian di AS, sedangkan Dolores adalah wakil kepala polisi! Tascha bahkan sudah mulai mengalami perkosaan itu sejak sebelum menikah (yang tadinya dia anggap sekedar gairah yang menggebu dari pacarnya) lalu semakin menjadi setelah berstatus istri. KDRT memang selalu diawali dengan merendahkan martabat secara mental melalui pelecehan verbal, lalu pemukulan dan ujungnya perkosaan. Pada titik dimana kekejaman itu meningkat, bahkan dilakukan dengan menggunakan botol! Bayangkan, kejahatan yang bisa dilakukan manusia, meski dia berstatus suami!
Tascha mengatakan mungkin jauh lebih ringan bila ia mengalami perkosaan yang dilakukan orang tak dikenal di jalanan. Mungkin hanya kesakitan fisik dan rasa terluka yang dalam karena kekuasaan atas tubuhnya diinvasi pihak lain. Tidak ada kesakitan emosional karena kekecewaan yang dalam, pengkhianatan akan cinta yang membuat mereka menikah, kesadaran akan kebodohannya dalam memilih pria untuk dicintai, dipercayai. Kupikir semua itu kesakitan yang terlalu berat untuk ditanggung dalam satu masa hidup seseorang.
Beberapa hal yang membuat perkosaan itu bisa diterima bertahun-tahun sebelum penjahatnya dihukum: Pertama, istri seringkali bingung sampai batas mana ‘pelayanan’ yang harus diberikan sebagai seorang istri. Apakah harus juga ketika ia sakit kepala, apakah harus juga ketika ia kelelahan sehabis bekerja, apakah harus juga ketika sehabis bertengkar luka hatinya belum pulih? Tidak salah lalu ada yang mengatakan jeritan perempuan ketika ia menikah: Apakah dosaku sehingga harus menikah? Hehe…
Kedua, masyarakat seringkali menimpakan kesalahan kepada perempuan ketika perkawinannya gagal. Perempuan dianggap bertanggung jawab dalam menjaga keutuhan keluarga, sehingga meski kesalahan bukan terletak padanya, pandangan menuduh, omongan tetangga tetap ditujukan pada perempuan. Hal ini membuat perempuan melakukan penyangkalan bahwa dia korban, sampai sudah sangat terlambat.
Ketiga, bahkan di Amerika sana, Dolores tidak yakin orang akan percaya bahwa dia diperkosa suaminya. Masyarakat membuat sekat tak tertembus untuk sesuatu yang ada di balik pintu tertutup sebuah keluarga. Apa pun yang terjadi di sana adalah wilayah private. Meski ada tangis, jerit, darah. Hanya bila ada mayat maka masyarakat boleh mendobrak sekat itu.
Saran yang diberikan para pelayan masyarakat untuk para korban KDRT, dokumentasikan. Pergi ke rumah sakit, dapatkan visum, buat foto dan cari saksi yang dapat dipercaya. Please, jangan malu ketika menjadi korban, cari perlindungan. Aku belum pernah mendengar ada hukuman akumulatif di Indonesia, seperti di AS. Perkosaan dengan kekerasan sekian tahun, perkosaan dengan senjata sekitan tahun, perkosaan dengan alat sekian tahun. Tapi, buatlah pembalasan setimpal untuk kejahatan yang merendahkan harkat dan mertabatmu. Btw, para binatang di rimba belantara sana juga mengenal perkosaan, gak ya?
Perkosaan adalah perkosaan. Bila seorang perempuan dipaksa melakukan hubungan seks, maka itu perkosaan. Meski dilakukan pacar, pasangan, bahkan suami. Itu perkosaan. Titik.

