Dialog Imajiner: Polygami
Ini dialog imajinerku dengan seorang teman, yang mengerti aku tapi selalu mempertanyakan banyak hal ketika aku berpendapat. Karena dalam imajinasiku dia juga seorang sahabat, yang ingin aku menguji dasar setiap pemikiran.
Aku :
Sungguh aku tak bisa tidur malam itu. Aku tak pernah mengaguminya, tapi posisinya membuatku sangat gelisah dengan pengaruh tindakannya pada masyarakat. Bagi kebanyakan orang yang tak mengkaji Islam dengan rasionalitas yang memadai, tindakannya adalah justifikasi. Tentu saja, aku juga sangat nelangsa dengan nasib istrinya. Kenapa perempuan selalu ditempatkan pada posisi tak bisa menentukan hidupnya sendiri. Dengan tujuh anak, pilihan apa yang tersedia untuknya? Hhhh....Dia :
Yah, laki-laki biasanya memikirkan kemungkinan memiliki lebih banyak kehangatan perempuan ketika merasa mempunyai resources lebih. (Tersenyum)Aku :
Aduh, apa kalian laki-laki tidak malu menjadi seperti itu? Apakah bagi kalian perempuan tak lebih seperti properti yang boleh dimiliki sebanyak mungkin?Dia :
Nafsu selalu membutakan nalar.Aku :
Aku telah lama memikirkan; mengapa Allah menciptakan manusia itu berdiri tegak? Menurutku agar kepala tempat pikirannya berada lebih tinggi dari dadanya, tempat dimana perasaannya bermain. Dan keduanya lebih tinggi dibanding perutnya, wadah segala nafsu. Penjelasannya bagiku, manusia diharapkan tidak seperti hewan yang kepala, dada dan perutnya sejajar, sehingga wajar bila bertindak berdasarkan insting atau mendahulukan nafsu. Tapi manusia seharusnya meletakkan nafsu dalam kontrol pikiran dan perasaannya, bukannya malah dikendalikan olehnya.Dia :
Yah, mungkin banyak orang perlu berpikir lagi tentang fakta itu. (Tersenyum) Btw, bila merujuk buku Sexual Strategy yang pernah kita bahas dulu, bukannya memang laki-laki dipilih karena resources yang dimilikinya? Sehingga ketika memiliki resources lebih banyak laki-laki merasa pantas memiliki perempuan untuknya lebih banyak pula? (Tersenyum)Aku :
Hei, jangan lupa. Buku itu membahas seksualitas dari sudut pandang biologi. Tidakkah manusia punya tugas membangun peradaban? Apa iya, cuma berlaku seperti si jantan kuat yang bisa merebut lebih banyak perhatian betina? Please deh, pertanggungjawabannya kelak kepada Tuhan bagaimana? Waktu itu tidakkah aku menertawakan analisis buku itu ketika diterapkan kepada manusia? Dimana tempat cinta di situ, harta paling berharga manusia setelah jiwanya.Dia :
(Tertawa) Oke-oke... Aku ngerti. Tapi bagaimana posisi poligami di dalam Islam menurutmu?Aku :
Ayat Al-Quran yang sering dijadikan pembenar adalah: An-Nisa' ayat 3, di bagian tengahnya saja, "...maka nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi, dua, tiga atau empat..." Potongan ayat itu seringkali digunakan secara tidak bertanggung jawab. Padahal ayat itu berawal dari SQ 2:2 dengan konteks, masyarakat Arab pada masa itu di samping suka mengawini puluhan bahkan ratusan perempuan juga sering kali mengawini anak-anak perempuan yatim yang memiliki harta waris. Perkawinan ini hanya untuk mendapatkan hartanya dan setelah dihambur-hamburkan oleh suaminya, mereka dicerai tanpa kemandirian dan terlunta-lunta, seringkali kemudian berakhir dengan menjadi budak.Dia :
Nah, ayat 2 surat An-Nisa' itu mengharamkan harta istri yatim digunakan oleh suaminya. Harta anak yatim harus dipisahkan dan tidak boleh digunakan selain untuk kehidupan si anak yatim itu sendiri untuk mengimprove kehidupannya sehingga pada akhirnya mandiri dan bisa mengelola warisannya sendiri. Ayat 3 meneruskan, dengan saran bila tidak sanggup memisahkan harta dan berlaku adil terhadap anak yatim yang diperistri itu, maka nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi, dua, tiga, empat... Pada bagian akhir masih ditambahkan "bila tidak mampu berlaku adil nikahilah seorang saja. Agar kamu tidak berbuat zalim".
Bagiku itu jelas hanya alternatif solusi pada masyarakat jahiliyah yang memperlakukan perempuan secara semena-mena.
Lalu, surat yang sama ayat 129: "Dan kamu tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istrimu, walau kamu sangat ingin berbuat demikian..."
Islam tidak pernah memaksa perempuan untuk menerima poligami atau perkawinan yang jelas-jelas membuatnya terzalimi, buktinya pada ayat berikutnya (2:130): "Dan jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya), lagi Maha Bijaksana".
Oya? Bukankah Allah membenci perceraian? Bukannya para ustadz sering bicara begitu dan menyalahkan perempuan yang menuntut cerai dari suaminya?Aku :
Ya, Allah tentu saja membenci perceraian, karena itu salah satu tindakan yang irresponsible. Islam tidak suka manusia yang begitu. Tapi Allah lebih tidak suka orang yang berbuat zalim, termasuk menzalimi diri sendiri.Dia :
Tapi para suami yang berpoligami seringkali mengatakan bahwa itu tuntunan/sunnah Rasul?
Aku :
Aku tidak mengerti bagian mana dari perilaku Rasul yang mau diteladani oleh pelaku poligami. Rasul menikah dengan Khadijah r.a. yang janda dan 15 tahun lebih tua secara poligami selama 28 tahun sampai sang istri meninggal dunia. So, sepanjang masa mudanya Rasul monogami. Dua tahun kemudian dalam upaya pengembangan syiar Islam di Jazirah Arab, beberapa perang terjadi. Peperangan itu membawa korban syahid beberapa sahabat yang meninggalkan istri dan anak-anak. Rasul menikahi janda-janda sahabat tersebut untuk melindungi mereka dalam situasi peperangan, beberapa di antara mereka jauh lebih tua dibanding Rasul. Pernikahan poligami ini juga terjadi untuk menghindari perang dan menyebarkan Islam lewat perkawinan.
Dia :
Bagaimana dengan Siti Aisyah yang masih sangat muda?
Aku :
Siti Aisyah adalah putri Abu Bakar, sahabat setia Rasul. Beliau dinikahi Rasul ketika berumur 9 tahun, saat masih suka bermain dengan sebayanya. Rasul begitu menyayanginya karena memang masih sangat kecil, dan beliau menunggu sampai baligh untuk kemudian baru memperlakukannya sebagai istri. Karena beliau seorang Rasul Allah, tidak ada tindakannya di luar perintah Allah, di samping kita tahu beliau dipelihara dari dosa. Termasuk ketika berpoligami. Bagiku penjelasan mengapa Siti Aisyah yang masih begitu muda dinikahi Rasul adalah supaya bisa hidup jauh lebih lama setelah Rasul wafat untuk menyampaikan kesaksian kepada umat tentang kehidupan Rasul yang patut diteladani sebagai Sunnah. Itu penjelasan yang paling masuk akal dan sesuai dengan kualitas Kerasulan beliau menurutku. Wallahu 'alam. Bukankah bahkan Abu Bakar pun masih juga bertanya kepada Aisyah, kebiasaan Rasul apa saja yang belum dikerjakannya?
So, tidak ada pembenaran menurutmu bila itu disebut tuntunan Rasul?Aku :
Sama sekali tidak ada yang signifikan dari argumen itu. Begini saja, Rasul selain shalat wajib juga shalat sunnah yang kalau diteladani ummatnya (termasuk para ustadz itu) tak akan lagi menyediakan ruang di kepalanya untuk memikirkan nafsu. Rasul shalat sehabis berwudhu, shalat ketika mendengar azan, shalat ketika memasuki masjid, shalat rawatib, shalat malam sepanjang sepertiga malam dan masih banyak shalat sunnah lainnya. Lalu, Rasul puasa setiap hari Senin dan Kamis. Lagipula, shalat yang benar akan membuat orang yang mengerjakannya semakin spiritual, jauh dari nafsu selain nafsu mutmainah. Shalat yang benar akan menghindarkan orang dari menzalimi orang lain. Sementara poligami itu jelas perbuatan yang zalim pada perempuan dan anak.Dia :
So, dari diskusi panjang ini, apa argumen penutupmu?Aku :
Dua orang, laki-laki dan perempuan memutuskan untuk menikah, penjelasan logisnya adalah membangun masa depan dengan kapasitas yang dimiliki keduanya. Ibaratnya modal bersama, --baik itu waktu, kapasitas sosial dan ekonomi, bahkan tubuh, dimanfaatkan untuk kebaikan dan tujuan bersama-- dengan pembagian 'keuntungan' fifty-fifty. Lalu apa yang bisa dijelaskan untuk kasus poligami? Jelas memposisikan perempuan tak setara dengan laki-laki. Keyakinanku, Allah tidak mungkin menciptakan dua makhluk berbeda jenis kelamin dengan kedudukan yang tidak setara, sama seperti Dia menciptakan manusia dengan ras yang berbeda, sama sekali bukan untuk menunjukkan yang satu lebih mulia dari yang lain.


2 Comments:
"Yah, laki-laki selalu memikirkan kemungkinan memeliki lebih banyak kehangatan perempuan ketika merasa mempunyai resources lebih. (Tersenyum)"
comment: Kata "selalu" sebaiknya direvisi karena tidak semua laki2 butuh dan ingin punya banyak perempuan.
Sampai di situ sebetulnya bukan imajiner sih, SMS real... Tapi oke, sudah kuubah. Aku tahu gak boleh mengeneralisir, pastinya ada yang setia dan rasional seperti Bank Al... :-)
Post a Comment
Links to this post:
Create a Link
<< Home