Thursday, January 11, 2007

JIFFest 2006

Jakarta Internasional Film Festival (JIFFest) tanggal 8-17 Desember 2006 lalu adalah yang kedelapan kalinya diadakan. Bagi seorang penikmat film, JIFFest adalah pesta. Mungkin kesadaran bahwa jiwa kita terkurung dalam tubuh yang terbatas sehingga terpaksa menjalani hidup yang sempit di pojok luasnya cakrawala pengalaman hidup yang dialami orang-orang lain, adalah alasan mengapa kita ingin mengetahui dan mengalami lebih banyak hal di luar pengalaman keseharian kita. Bukankah kita perlu memfasilitasi pengayaan jiwa agar menjadi lebih cemerlang dan kaya dibanding pengalaman yang bisa diberikan tubuh? Film adalah media paling menarik untuk itu, menonton film-film bermutu dari berbagai negara di dunia adalah cara paling menyenangkan untuk belajar kebudayaan yang membangun peradaban kita.

Berikut penceritaan kembali beberapa film yang diputar pada JIFFest lalu, dari sudut pandang penonton, seorang penikmat film.

Iluminados Purel Fuego
Film Argentina yang berkisah tentang veteran perang Malvinas. Perang yang kalah. Film ini mengisahkan seluruh kepedihan kekalahan perang itu lewat dua orang sahabat. Tak peduli darah dan air mata yang tumpah, perebutan akan tanah dapat dilakukan lebih baik dengan diplomasi oleh negara yang lebih kuat. Tak ada sambutan untuk perjuangan dengan sakit dan lapar itu, karena kalah. Bahkan tak ada kehidupan yang menjanjikan setelahnya.

Sang veteran perang kemudian menjadi pekerja pabrik, dan setelah pabriknya tutup karena krisis, terlunta-lunta dan menganggur. Kepahitan perang yang harus dijalaninya masih berlanjut dengan kepedihan hidup setelahnya. Bila dalam perang yang harus dijalaninya dalam keadaan sakit dan terluka dia pernah berpikir untuk menyerah, membiarkan dirinya terinjak-injak musuh, dalam kehidupannya kemudian yang getir dia akhirnya memutuskan untuk menyerah lagi. Membunuh dirinya sendiri dengan meminum segala jenis obat-obatan. Belakangan terbaca bahwa jumlah tentara yang tewas di medan perang sebanding dengan yang bunuh diri setelahnya.

The Lives of Others
Adakah yang pribadi bila negara berlaku absolut? Pada JIFFest tahun ini film yang disutradarai Tristan Bauer ini dikategorikan ke dalam Human Rights Section. Lima tahun sebelum tembok Berlin runtuh, Jerman Timur mengontrol ketat warga yang dianggap dapat merugikan posisi pemerintah.

Kapten Wiesler ditugaskan untuk mengumpulkan bukti-bukti keterlibatan seniman Dreyman dalam tulisannya tentang situasi Jerman Timur yang dikirimkannya ke luar negeri. Sementara itu kekasih Dreyman, seorang aktris, Christa-Maria Sieland diperas untuk melayani seorang menteri demi keselamatan karir dan hidupnya. Mengamati kehidupan kedua orang itu dari seperangkat kamera tersembunyi yang ditanamdi apartemen Dreyman, merubah cara pandang Wiesler tentang tugasnya. Alih-alih melaporkan keterlibatan Dreyman, Wiesler justru membantunya menghilangkan barang bukti.

Film berdurasi 137 menit ini menceritakan dengan baik bahwa kebenaran berharga untuk dipilih meski mempertaruhkan jalan hidup. Dan kita seringkali tidak pernah tahu kebenaran yang sesungguhnya sampai melihatnya dari sisi yang lain, dengan mengalami hidup orang lain.

Land Mines: A Love Story

Habiba tadinya seorang gadis yang riang, menjalani hidup tanpa perlu bekerja sangat keras. Namun karena Afganistan negerinya dianggap sebagai sarang teroris, ranjau yang disebar dari udara di mana-mana oleh AS untuk melumpuhkan teroris justru menyebabkan kakinya diamputasi. Lalu kehidupannya mulai bergerak turun ke titik nadir ketika cinta yang berlabuh dalam perkawinan dengan seorang veteran perang bernama Shah, tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup anak-anak mereka. Habiba mulai menjadi pengemis dijalan. Film documenter ini mengisahkan dengan baik pengalaman Habiba yang menceritakan apa yang dirasakannya ketika pertama kali mengemis.

Di Negara itu pembuatan kaki palsu adalah sebuah industri. Begitu banyak orang yang membutuhkannya. Menjadi situasi yang tak terbahasakan ketika melihat pasien yang hendak dipasangi kaki palsu dilayani oleh dokter dan para medis yang semuanya juga mengenakan kaki palsu. Di sana, anak-anak diinisiasi tentang bahaya ranjau darat dan disuruh untuk menghindarinya bahkan dari jarak 200 meter. Bagaimana caranya mengetahui adanya ranjau darat dari jarak 200 meter?

Apa sebetulnya tujuan ranjau itu disebar dari udara? Untuk melumpuhkan teroris atau membuat sebuah negara menjadi terbenam dalam kemunnduran dengan membuat warganya menjadi cacat? Lalu siapa sebenarnya yang layak disebut teroris?

Mother of Mine

Ibu adalah dunia pertama seorang anak. Dari seorang ibulah kepercayaan terhadap dunia diperolehnya. Tapi bagaimana dengan Eero yang harus berpisah dengan ibu kandungnya ketika perang bergelora di negerinya, Finlandia? Ibu baru yang mengasuhnya sementara, Signe, adalah seorang wanita yang dua tahun lalu kehilangan anak perempuannya di tengah badai. Dia berharap Eero seorang anak perempuan, karena dia masih menyimpan semua barang yang berhubungan dengan anaknya dengan baik. Signe merasa kehadiran Eero tak bisa membuatnya begitu saja menerima perannya sebagai ibu kembali.

Surat dari ibu kandung Eero kemudian datang dan menceritakan tentang kehidupan barunya dengan seorang pria dan berharap Eero bisa seterusnya bersama Signe. Meski berusaha menyembunyikan surat itu dari Eero, akhirnya Eero tahu ibunya tak menghendaki kehadirannya lagi. Signe dan Eero pun lalu mulai membuka hati untuk menghayati peran mereka masing-masing.

Ketika akhirnya ibu kandung Eero berubah pikiran, dia ingin Eero kembali ke pangkuannya dan melepaskan pria Jerman itu kembali ke negerinya, Signe kembali harus kehilangan anaknya. Sakit hati karena cinta keibuannya direnggut dengan semena-mena, Signe menyimpan rahasia bahwa ibu kandung Eero demikian mencintainya, selama 60 tahun. Selama itu pula hubungan eero dengan ibunya dingin dan tak terjembatani. Karena menjadi ibu tidak hanya bermakna biologis tapi penerimaan di dalam hati dan menanamkan kepercayaan kepada anak bahwa ia dicintai. Kepercayaan yang akan membuatnya membangun kepercayaan diri untuk mengarungi hidupnya.

Leila Khaled: The Hijacker

Apa yang dapat dilakukan seorang gadis ketika negerinya dirampas, keluarganya mengungsi dan tak pernah bisa kembali ke rumah tempat ia dibesarkan? Dia membajak pesawat. Bagi Leila Khaled itu satu-satunya cara untuk memberitakan kepada dunia apa yang terjadi di negerinya, Palestina.

Setelah drama pembajakan tanpa korban yang menggemparkan itu, Leila tak diizinkan kembali ke negerinya. Dia menetap di Yordania dengan suami dan anak-anaknya. Setelah 35 tahun berlalu, dia menangis ketika dibawakan pecahan keramik dari rumah masa remajanya yang kini tak terurus. Tapi dia tak menyesal dengan jalan yang dipilihnya. Bila apa yang dilakukannya disebut tindakan teroris, lalu apa sebutan bagi orang yang merebut tanah kelahirannya? Ketika ditanyakan pendapatnya tentang anak-anak yang dilatih untuk menjadi serdadu, ia balas bertanya apakah kebaikan yang sudah terjadi sehingga anak-anak itu menjadi yatim piatu?

Beethoven’s Hair dan Mozartballs

Keduanya film dokumenter besutan sutradara Larry Weinstein yang hadir pada pemutaran film-film tersebut di JIFFest lalu. Bagi penikmat musik klasik, kedua film ini hanya akan membuat mereka lebih tergila-gila. Karena bila ada banyak tangga menuju yang transenden, maka musik pasti salah satu tangga itu.


0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home