Sunday, April 29, 2007

Sulitnya Jadi Perempuan

Berempat dalam perjalanan pulang dari Depok, tiba-tiba muncul obrolan tentang: Bagaimana sebaiknya perempuan bersikap agar disukai dan dipilih menjadi kekasih...
Hm, topik yang menarik, bukan? :-)

Novi yang pertama nyeletuk, " aku diberitahu agar tidak banyak berkomentar dan tersenyum manis saja bila berhadapan dengan cowok". Kami tertawa.
"Aku gak bisa jadi manis dan manja gitu...", keluh Novi tanpa sesal. Tentu saja, dia sangat menikmati menjadi dirinya sendiri.
Aku menimpali, "sejak kuliah dulu, aku udah dinasehati agar pura-pura bodoh saja bila muncul topik tertentu dalam pembicaraan. Aku gak bisa".
"Oh, kalo itu aku gak mau", tegas Novi. Kami tertawa lagi.

Giliran Elin menanggapi, "Bukan begitu, tapi jangan mendominasi".
"Hm, gitu ya...", Novi menggumam.
Aku sengaja buka front, "Kenapa kalo dominan, egonya terluka?"
Novi nyeletuk lagi, "Makanya ada yang bilang, pura-pura manis dulu sebelum nikah, ntar kalo udah married terserah lo mo gimana".
Haha..., kami tertawa riuh.

Elin dan Tio,
as two men of us, bertukar pandang, "harus ati-ati dong, ya". Giliran aku dan Novi yang tertawa.

Geli rasanya bertemu tema ini lagi dalam hidupku. Karena sejak kuliah dulu pun aku merasa paling ajaib dengan ego laki-laki. Kenapa memang bila kalian bertemu perempuan cerdas atau pintar? Bila muncul topik tertentu yang kebetulan dia kuasai, apa salah bila dia mendominasi pembicaraan? Bila aku yang harus menilai, aku baru merasa
alert bila dia mendominasi semua topik bahasan apalagi dengan kesan sok tahu atau... Aku pernah menghindar dari pria yang menurutku berkali-kali meng-arange acara nonton kami menjadi 'nonton film yang dia pilih'. Terakhir dia bilang, sudah pegang dua tiket film yang jelas-jelas dia tahu sudah kutonton. Hm, gak deh.

Di dunia ini ada terlalu banyak hal yang mustahil untuk dikuasai satu orang. Bila dia dominan ketika bicara bidang yang dia mengerti, maukah dia menjadi pendengar yang simpatik ketika kamu share bidang yang kamu kuasai dengan baik. Menurutku itu yang penting.

Bila kebetulan bertemu dengan perempuan cerdas yang mengerti banyak hal, ya nggak perlu langsung krisis pede, kan. Setiap orang punya kualitas terbaik yang membuatnya pantas untuk dicintai dan dipilih. Salah seorang temanku sadar sekali ketika memutuskan menikah, "He is a very good man, but not smart enough". Pernikahan mereka berlangsung damai (tanpa ada dominansi), temanku nyaman dengan suaminya yang baik selalu bersedia diajak bicara, mencari solusi rasional terbaik bersama-sama untuk setiap persoalan keluarga mereka dan dengan begitu mereka berproses bersama dalam menjalani kehidupan cerdas.

Menurutku mereka takkan pernah menikah, bila sang calon suami mengalami krisis pede dengan temanku yang memang cerdas itu. Atau setelah menikah mereka takkan bahagia bila krisis pede itu diekspresikan dengan menutup jalur diskusi dan menganggap keputusan harus diambil kepala keluarga, dst. Wah-wah..., bukankah menghalangi kebahagiaan sendiri dengan begitu?

So, wahai kaum laki-laki, biarkanlah perempuan mengaktualisasikan dirinya, berikanlah setengah ruang di dunia ini untuk mereka. Dunia ini pasti menjadi lebih baik bila setengah lagi penduduknya diberi keleluasaan untuk menjadi dirinya sendiri, menjalani hidup dengan cerdas, profesional di bidangnya dan berdiri sejajar dengan yang lain. Jangan biarkan perempuan hanya menjadi setengah dirinya, menjalani setengah hidup yang disediakan Tuhan untuknya hanya karena harus menjaga ego partnernya, hanya supaya ia tidak hidup sendiri. Seorang perempuan juga ingin di batu nisannya tertulis: "Perempuan ini telah menjadi dirinya dan menjalani hidup sepenuhnya"


6 Comments:

At 3:04 AM, Anonymous Anonymous said...

Ayo tukeran, kamu mau jadi laki2..?Jadi laki2 juga sulit bu...!Makanya kita dihidupkan berpasangan agar bisa saling bekerjasama, saling melengkapi, saling menemani, memahami, menyayangi, dan mencintai...,gimana?

 
At 3:14 AM, Anonymous Anonymous said...

So, wahai kaum laki-laki, biarkanlah perempuan mengaktualisasikan dirinya, berikanlah setengah ruang di dunia ini untuk mereka. Dunia ini pasti menjadi lebih baik bila setengah lagi penduduknya diberi keleluasaan untuk menjadi dirinya sendiri, menjalani hidup dengan cerdas, profesional di bidangnya dan berdiri sejajar dengan yang lain. Jangan biarkan perempuan hanya menjadi setengah dirinya, menjalani setengah hidup yang disediakan Tuhan untuknya hanya karena harus menjaga ego partnernya, hanya supaya ia tidak hidup sendiri. Seorang perempuan juga ingin di batu nisannya tertulis: "Perempuan ini telah menjadi dirinya dan menjalani hidup sepenuhnya"

- I thing that statement so sadness, n hopeless...(sedikit insane n bikin gue kesel...!)Baik laki2 dan perempuan sebenarnya bisa saling menjajah dan mengintimidasi satu dengan lainnya. Tulisan di atas sangat intimidatif. Sebenarnya siapa saja perlu untuk mengaktualisasikan dirinya, kalo gak kiamat aja, mending...!

 
At 12:30 AM, Blogger raisha said...

Hm, tadinya agak malas menanggapi, karena anonim siihh... :-) Aku kan gak bisa tau, friend or foe? :-))
Tanggapanku begini:
Sejak menjadi mahasiswa filsafat dulu aku sudah mempersiapkan diri untuk menjadikan dunia sosial sebagai laboratorium ilmuku. Aku mengerti, tentu saja menjadi laki-laki juga sulit karena kalian juga diberi patron peran oleh masyarakat yang tidak ringan. Tapi, dalam relasi antara laki-laki dan perempuan bukankah lebih banyak perempuan yang harus mengalah? Dimarginalkan atau sengaja memarginalkan diri agar dianggap tahu menempatkan diri? Banyak teman akan berkilah, "aku tak begitu, di keluargaku perempuan tak diperlakukan begitu". Syukurlah bila Anda telah menjadi laki-laki yang sadar gender, tapi lihatlah di luar sana.
Sekali lagi, aku hanya sedang meneropong realitas sosial yang terjadi di sekeliling kita, agar kita tak lupa bercermin, menata diri dan masyarakat dimana kita menghirupi hidup.

 
At 9:31 PM, Anonymous asaputra said...

Kebetulan kata aktualisasi diri pula lah yg menarik perhatian daku. Mengingatkan diriku atas tingkatan terakhir Maslow's needs. Kyknya sih, kebetuhan untuk memenuhi level terakhir dr hierarchy ini pun merupakan suatu ego tersendiri, bukan? Jadi ya memang, setiap individu punya ego masing2. Tinggal bagaimana penempatannya dlm hub sesama manusia...

 
At 10:37 PM, Blogger raisha said...

Ya, kita perlu ego untuk survive, menjadi otonom, juga untuk memiliki hidup yang 'penuh'. So, tidak perlu merasa bersalah bila punya ego. Hanya apakah ego yang dipunyai itu sehat?
Berusaha mengaktualisasi diri berdasar kemampuan dan potensi yang dimiliki adalah wujud ego yang sehat. Tapi menghalangi, mendiskreditkan, dan mencemburui orang dalam upayanya mengaktualisasikan diri merupakan gambaran ego yang tidak sehat.

Anyway, thanks 4 ur comment...

 
At 2:30 AM, Anonymous Anonymous said...

wew..is becoming a woman that hard mbak?

 

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home