Tuesday, April 24, 2007

Terperangkap dalam Hujan Sore di Jakarta

hujan...
kali ini seperti halnya seringkali, aku menyenyumi kehadirannya.
karena aku tak tergesa ke mana pun.
karena melintasi Jakarta dalam hujan seperti sebuah petaka.
di perempatan Sarinah, kuberlari kecil memasuki pertokoan tua itu.
membiarkan kacamataku berkabut, menikmati tetes-tetes pertamanya.
hm, kuputuskan menyimak titik yang mulai merapat itu dari jendela sebuah restoran cepat saji.
payung-payung besar itu berlarian menawarkan jasa.
betapa gesit warga kota yang bocah-bocah kecil itu menangkap peluang rezeki.
dan, mobil-mobil mulai berbaris, beringsut dalam meter demi meter.
meski hujan tinggal gerimis.
kubayangkan menyaksikan hujan dari jendela rumah tua nenekku.
rintik itu akan mengusik dedaunan, membasuhnya sampai bersih.
dan, bisa kucium bau tanah basah bekas terik siang tadi.
di Jakarta tak ada semua itu.
hanya ada lantai beton, gedung tinggi dan ribuan mobil.
tapi aku merasakan cinta untuk kota ini.
karena pada dasarnya aku mencintai kota besar.
bukan karena gemerlapnya, aku toh tak mengerti bagaimana menikmati gemerlap.
tapi anonimitasnya.
pada momentum yang tepat ada kesempatan untuk terkenal di sini.
pada banyak saat, semua boleh menjadi anonim.
tanpa ada tatap penuh tanya, apalagi penuh penyimpulan.

sarinah, awal april 2007


1 Comments:

At 2:20 AM, Anonymous Anonymous said...

"pada momentum yang tepat ada kesempatan untuk terkenal di sini."
pengen negtob nih mbak?? kekekkeke

 

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home