Tentang Film Ayat-Ayat Cinta
Aku bertanya-tanya cukup lama tentang film ini.
Bertanya-tanya karena begitu banyak orang mengatakannya bagus.
Bertanya-tanya tentang pendapat beberapa tokoh yang menyebutnya mencerminkan wajah Islam.
Bertanya-tanya tentang teman filsafatku yang sampai mengulang-ulang dialognya dan menyuruhku menonton.
Bertanya-tanya benarkah film
Aku sampai dikritik untuk tidak terlalu skeptis dan melihatnya dulu sebelum menilai.
Aku kembali bertanya-tanya. Dengan gusar kali ini.
Apa bedanya dengan sinetron Indonesia yang sesak dengan dialog dan logika cerita yang ajaib?
Apa kelebihan dahsyat Fahri sehingga dicintai secara ‘gila’ oleh empat perempuan?
Tak tergambar cukup di sana untukku. Dia menjelaskan ajaran Al-Quran secara tekstual ketika diwawancarai, apakah mencerminkan kapasitas seorang mahasiswa S-2 Al-Azhar? (Kalau aku yang jadi teman AS-nya, aku akan bertanya, bagaimana bila suami yang mengingkari komitmen pernikahan?)
Semua kelebihan Fahri diberitakan tokoh lain dalam dialog, come on, ini film, media paling lengkap setahuku untuk bercerita. Fahri bahkan memerlukan bantuan Maria untuk tahu datanya benar-benar hilang di komputer. (Kasihan benar penggambaran untuk para mahasiswa dari Indonesia ini, ada empat orang di flat itu dan tidak ada yang mengerti apa artinya kena virus komputer. Sampai-sampai cowok yang maunya digambarkan culun dengan perempuan, harus mengajak seorang perempuan ke flatnya. Aduh!).
Apakah seorang yang punya relasi inteligen yang bisa menelusuri ortu Noura, tidak berdaya apa-apa menghadapi tuduhan palsu?
Apakah Islam membenarkan perempuan dinikahi dalam kondisi tidak sadar?
Apakah seorang korban seperti Noura yang dijadikan budak seks harus mendapatkan pemaafan dari kedua orang tua kandungnya?
Aku bertanya-tanya lalu, kebenaran pendapat tokoh Islam yang menonton (sebagai penggambaran wajah Islam?) yang mungkin dititipi untuk memberikan pesan promosi.
Seberapa bertanggung jawabkah itu?
Ternyata hanya film tentang empat perempuan pemuja lelaki tanpa pernah menghargai secara pantas diri mereka sendiri. Para perempuan yang seolah hanya punya pilihan menikah dalam hidupnya meski itu harus dipoligami.
Hm, agak maklum juga karena pengarangnya laki-laki, jadi rada narcis, gitu deh…
Kekinya aku ketika bertanya pada temanku itu, apanya yang bagus?
Dia tertawa; aku bilang begitu, biar kamu nonton dan berbagi kecewa denganku.
Menjadi teman kadang memang memberimu previllege untuk ngerjain!


6 Comments:
ha ha ha ..ternyata ada gunanya juga ya Anti nonton ..jadi bisa ngomel-ngomel ha ha ha
betewe..mba anti baca novelnya ngga?
Ga deh, makasih. Ga logis kalo skenario yang jelek bikin penasaran sama novelnya, tho? Hehe... Aku ga mau dikerjain dua kali!
Aku sih mending maen game sekalian (ya ga, Cun) daripada nonton atau baca yang ga nawarin pemahaman baru. Garing...
Apa kabar, Yun... Masih seperti yang kukenal dulukah?
kekekkeke sewot dia..tapi menurutku jauh lebih bagus novelnya dari filmnya (aku baca novel duluan dr filmya, bukan sebaliknya)..film kan memperpendek cerita di novel yang sayangnya di beberapa adegan ada kehilangan konteks, bahkan ada yang membikinnya jadi missleading..
*sharing ajah kok mbak..nggak bermaksud bikin sewot gitu..hihihi..lagian ngapain juga promosi novel..emangnya gw dibayar sm kang abik..kekekekke*
ha ha ha ... tenang Yun, Anti gak sewot kok ..emang gitu tuh gayanya he he he, Nti aku punya rumah baru di dunia maya www.husnialmunir.multiply.com mampir ya :)
Iya nih, Yuni belum ngeh aku juga. Rugi amat, pake sewot, Yun. Skenarionya buruk berarti tho? Jadi filmnya ga bikin novelnya dapat promosi, gitu maksudku. Sementara Kang Abik bukan novelis favoritku deh kayaknya, Cuni pasti tau alasannya. Hehe...
Eh, aku dah mampir lagi, Cun. Foto-2-mu makin bagus. Boleh dong, aku dibagi biar kupajang di sini. Sepi nih blog ga ada fotonya.:-)
Miss U girls...
Post a Comment
Links to this post:
Create a Link
<< Home